MENULIS MELATIH HATI

Beberapa waktu belakangan ini saya intensif setiap hari menulis. Menulis jenis tulisan apapun. Lebih seringnya saya menulis catatan harian awal tahun ini. menulis catatan harian sudah saya lakukan sejak dibangku sekolah SMA kelas dua. menulis catatan harian tidaklah rutin saya lakukan, tergantung suasana hati bila jari-jemari ingin bergerak mengambil pena mencatatan apa saja dari luapan hati dan bila susana hati berat maka jari-jemari enggan menulis.

menulis belakangan ini ada sesutu yang menyadarkan saya. sadar akan gerakan hati dan setiap pembentukan kalimat. paling tercurah dan paling menyadarkan saya bila menulis secara manual di kertas dengan menggoreskan pena berirama aluna jari meliuk-liukan menciptakan huruf demi huruf, kalimat demi kalimat sampai mencapai puncak finisnya paripurna tulisan oleh sang penulis.

dari sini saya menyimpulakan bawah menulis secara manual atapun melalui mesin ketik juga melatih hati. terutama secara manual. menulis bukan hanya soal teknik ataupun soal dalam menyusun bahasa yang mudah dipahami pembaca. menulis juga harus selaras dengan hati. hati merupakan ceriminan jiwa yang murni dalam merasakan kejujuran dalam bertindak. bila tindakan dan hati tidak sinkron menyebabkan “grundele ati”.

Beberapa kali saya menulis sering juga tidak jadi. ketika ada kemauan mengerjakan sesuatu dalam sebuah tulisan bilah hati berat dan enggan maka mempengaruhi kita dalam bertindak. hati tak terlihat, tapi begitu nyata mempengaruhi tindakan. kadang aku bingung akan hal ini. hati itu fungsinya adalah perasa. oke ia perasa; katanya.

untuk sekarang saya peracaya bawah menulis menyentuh ruang hati. bagiamana tidak, ia seperti bayangan manusia, bila manusia bertindak selalu melekat dan mempengaruhi tindaknnya. menulis dengan mengasah hati sampai puncaknya dalam pengasahannya adalah? jawabannya pun masih belum saya temukan.

INSPIRING PEOPLE

“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No. 01 | Januari 2022 INSPIRING PEOPLE Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada jenis orang, kalau bertemu mereka, kita menjadi loyo. Suntuk dan lemas. Energi kita kempis. Bocor. Tok gara-gara melihat sikap dan isi bicara mereka yang sangat negatif. Ini jenis […]

INSPIRING PEOPLE

AKU, HMI dan ADA


Setengah dirimu iblis
‌Setengahnya lagi malaikat
‌Sebahagian dirimu terang
‌Selebihnya g‌elap


Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu. ~ Soe Hok Gie (Catatan seorang demonstran)

Jabatan Dunia, eksistensi, pangkat, kebanggaan, pencapaian, kesendirian, keramaian apapun bentuknya itu. Apakah benar-benar betul meng-ada sebagai manusia?

Jiwa manusia bergerak untuk mengadakan keadaan dirinya lalu mecuatkan eksistensinya sebagai manusia. Padahal manusia terikat ruang dan waktu. Apakah manusia lahir di dunia ini memang betul-betul ada?

Apakah kita begitu meng-ada sebagai manusia? Ketika Phyro seorang kaum sofis pada zaman Socrates mulai meragukan segala bentuk pengetahuan, bawah manusia tak mungkin bisa memegang satu pengetahuan. Phyro berkata “Mengetahui adalah suatu hal yang mustahil, ‘ragu’ dan ‘saya tidak tahu’ adalah ketentuan dan nasib manusia. “

Ketika seorang imam ghozali terjun pada akal lalu memulai aktivitanya dari keraguan. Imam Ghozali berkesimpulan yang dapat dipercayainya adalah mimpi. Apakah kita sebagai manusia hanyalah mimpi panjang atau memang benar-benar nyata?

Ketika seorang rene decartes meragukan segala bentuk kepercayaan sampai puncaknya ia tidak meragukan keraguannya sehingga menghasilkan deretan kesimpulan. Pertama “meskipun saya meragukan segala yang ada, tetapi saya tidak ragu bawah saya sedang dalam keadaan ragu”, lalu rene decartes memulai tahap kesimpulan.
” Saya sekarang tengah merasa ragu, dan karena saya merasa ragu, berarti ‘saya yang sedang ragu ini’, ADALAH ADA. dari sini ia mulai menemukan keyakinan bawah “aku berfikir maka aku ada.”

Itu ketiga contoh yang menanyakan eksistensi sebagai manusia. Lalu, jiwa dan raga pada kehidupan ini, saya sebagai manusia yang berusaha meng-ada apakah pada kenyataannya memang ada. Saya bukan seorang filsuf ataupun intelektual seperti para ahli. Saya hanya sebagai manusia yang memiliki keterbatasan akan peran dan fungsi. Berusaha mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul di benak saya dengan berusaha menjawab dengan keterbatasan kemampuan.

Di tubuh candradimukapun diajarkan bawah eksistensi manusia di bumi ini adalah khalifah fil ardhi. Cak Nur mengatakan setelah kepercayaan adalah berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar dan goalnya adalah amal yang baik atau pekerjaan ke manusia-an.

Lagi-lagi keadaan pada rana kepercayaan di uji. Ada dan tiadanya kehadiran ini apakah memang ada. Jika ada, maka adanya dirimu di implementasikan buat siapa? Sikap independen etis dan organisatoris terangkum pada misson HMI yang begitu utopia. Sudahkah berada pada jalannya?

Sudah retetan kejadian di tubuh tepat penempatan ijo ireng membentuk suatu ke abstrakan pikiran. Pikiran mempertanyakan lagi dan lagi. why am i here? who i’m?

Saya berkesimpulan sementara mengenai refleksi akhir-akhir kejadian lalu. Yaitu “Makna perkaderan HMI baik adalah menjadikan kadernya sesuai insan cita dengan puncak paripurna.”

Mengutip akhir Puisi said muniruddin penulis buku HMI bintang Arsy…
‌Setengah dirimu iblis
‌Setengahnya lagi malaikat
‌Sebahagian dirimu terang
‌Selebihnya g‌elap
Di HMI hanya satu proses perjalanan sebagai manusia yang sudah memilih jalan tersebut. Jika memilih jalan tersebut, maka berusaha yakin apa yang dianggap kebenaran sesuai insan citanya. Memegang dengan sepenuh hati, meski melawan arus banyak orang di jalan tersebut. Keterbukaan dan kelapangan dada adalah kunci keluwesan jiwa dan fikiran.

Perempuan dan kegundahan relung hati

Catatan 7 Desember 2021

Aku bertemu seorang gadis di suatu tempat yang tak ingin ku sebutkan namanya. Tatapan pertama dan senyumnya biasa-biasa saja bisa dikatakan standart kecantikan pada umumnya ia biasa-biasa saja.

Pertemuan itu aku hanya sebagai tempat mediator shering pengetahuan. Seiring dengan sentuhan alunan suara bicaranya kumulai terbius akan kehidupan dan semangat impiannya. Selesai pertemuan tersebut. Beberapa hari ada suatu rasa yang aneh dan selalu terbayang akan wajah dan senyumnya.

Beberapa masalah kehidupan seakan terhabus tak sengaja bila terlintas melihat wajahnya di imajinasi begitu saja. Hati terasa berat melekat memikirkannya begitu saja. Pikiran terasa satu gambaran yaitu wajahnya yang begitu ceria.

Aku tak tahu apakah ini yang dinamakan rindu? Padahal aku pertama kali bertemu dengan dia. Apakah ini namanya cinta tapi tak memiliki? Selama hidup baru pertama kali merasakan hati berat merasakan rindu atau mungkin bukan rindu? Tapi sesuatu yang pasti aku ingin bertemu dengan dia dan ingin berbicara, ingin memahami seluk beluk  mengenai dia.

Haduh, betapa rasa ini sulit untuk ditebak. Apakah ini yang dinamakan kangen? Tak pasti, semua terasa berat dan terbayang-bayang akan bayangan sang perempuan yang membius relung hatiku. Perempuan yang sulit ditebak. Bahkan dengan akalpun tak mampu mendiskripsikannya.

Aku bukanlah pria yang tak mudah mengatakan ‘jatuh cinta’. Aku bukan pria yang tak mudah menyatakan ‘aku cinta padamu’. Aku tak mudah ‘mencintai’. Aku tak mudah mengakui ku ‘cinta’. Pernyataan dan ungkapan cinta begitu sakral bagiku karena ia menyangkut rasa hati. Bila aku melukai hati yang tersakiti oleh pernyataanku yang tak berhati-hati. Bodohlah diriku sebagai seorang lelaki yang mudah mengubar janji. Bila belum ku ucapkan maka saya tak memiliki kesalahan apapun terhadap orang kucinta, meski ia merasa.

Bila ku ungkapkan maka ‘dititik itulah ku berusaha memilikinya’. Bila disodorkan, milih diskati atau menyakiti. Ku hanya berkata kejujuran tak terkukung atas kemurnian jiwalah akan seperti apa pada jawaban akhir yang diberikan waktu. 

Cinta itu abstrak tidak bisa dibuktikan secara inderawi dan rasio. Tapi ia ada dan diyakini ia suatu abstrak yang nyata mempengaruhi kehidupan dan tindakan

Puisi

Kesempurnaan

Dalam setiap langkah kehidupan
Harapan manusia diujung gelisah
Berusaha meraih impian
Menjadikannya nyata

Diujung yang dikira kesempurnaan
Hanyalah bagian tidak kesempurnaan
Derasnya hujan menerjang kesunyian jiwa
Diujung waktu sisa-sisa kehidupan

Hati selalu bergumam dan bertanya-tanya
Untuk apa semua ini?
Kejujuran tetesan air mata

Pencarian kah?
Jati diri?
Baca lebih lanjut

CATATAN PENA

Catatan pena

Awalnya saya agak bingung harus memberi nama blog ini apa. Pada akhirnya saya namakan “catatan pena”. Yang saya pikirkan ketika ingin menulis didalam sebuah blog pribadi adalah harus merupakan sebuah tulisan-tulisan hasil karya sendiri dan bukan hasil karya orang istilahnya Plagiarisme.

Menulis merupakan salah satu pekerjaan abadi dan mulia. Dengan menulis menurut saya merupakan hal yang mampu mengembangkan kemampuan untuk merangkai kata-kata dalam bentuk tulisan.

Pernah saya mendengar dari perkataan dosen saya “kemampuan intelektual seorang dapat juga diukur dan dilihat seberapa bagus dalam membuat hasil karya tulisanya”. Maka dari itu, blog ini merupakan awal saya menulis di sebuah dunia maya. Tempat melatih kemampuan saya.

Baca lebih lanjut