AKU, HMI dan ADA


Setengah dirimu iblis
‌Setengahnya lagi malaikat
‌Sebahagian dirimu terang
‌Selebihnya g‌elap


Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu. ~ Soe Hok Gie (Catatan seorang demonstran)

Jabatan Dunia, eksistensi, pangkat, kebanggaan, pencapaian, kesendirian, keramaian apapun bentuknya itu. Apakah benar-benar betul meng-ada sebagai manusia?

Jiwa manusia bergerak untuk mengadakan keadaan dirinya lalu mecuatkan eksistensinya sebagai manusia. Padahal manusia terikat ruang dan waktu. Apakah manusia lahir di dunia ini memang betul-betul ada?

Apakah kita begitu meng-ada sebagai manusia? Ketika Phyro seorang kaum sofis pada zaman Socrates mulai meragukan segala bentuk pengetahuan, bawah manusia tak mungkin bisa memegang satu pengetahuan. Phyro berkata “Mengetahui adalah suatu hal yang mustahil, ‘ragu’ dan ‘saya tidak tahu’ adalah ketentuan dan nasib manusia. “

Ketika seorang imam ghozali terjun pada akal lalu memulai aktivitanya dari keraguan. Imam Ghozali berkesimpulan yang dapat dipercayainya adalah mimpi. Apakah kita sebagai manusia hanyalah mimpi panjang atau memang benar-benar nyata?

Ketika seorang rene decartes meragukan segala bentuk kepercayaan sampai puncaknya ia tidak meragukan keraguannya sehingga menghasilkan deretan kesimpulan. Pertama “meskipun saya meragukan segala yang ada, tetapi saya tidak ragu bawah saya sedang dalam keadaan ragu”, lalu rene decartes memulai tahap kesimpulan.
” Saya sekarang tengah merasa ragu, dan karena saya merasa ragu, berarti ‘saya yang sedang ragu ini’, ADALAH ADA. dari sini ia mulai menemukan keyakinan bawah “aku berfikir maka aku ada.”

Itu ketiga contoh yang menanyakan eksistensi sebagai manusia. Lalu, jiwa dan raga pada kehidupan ini, saya sebagai manusia yang berusaha meng-ada apakah pada kenyataannya memang ada. Saya bukan seorang filsuf ataupun intelektual seperti para ahli. Saya hanya sebagai manusia yang memiliki keterbatasan akan peran dan fungsi. Berusaha mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul di benak saya dengan berusaha menjawab dengan keterbatasan kemampuan.

Di tubuh candradimukapun diajarkan bawah eksistensi manusia di bumi ini adalah khalifah fil ardhi. Cak Nur mengatakan setelah kepercayaan adalah berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar dan goalnya adalah amal yang baik atau pekerjaan ke manusia-an.

Lagi-lagi keadaan pada rana kepercayaan di uji. Ada dan tiadanya kehadiran ini apakah memang ada. Jika ada, maka adanya dirimu di implementasikan buat siapa? Sikap independen etis dan organisatoris terangkum pada misson HMI yang begitu utopia. Sudahkah berada pada jalannya?

Sudah retetan kejadian di tubuh tepat penempatan ijo ireng membentuk suatu ke abstrakan pikiran. Pikiran mempertanyakan lagi dan lagi. why am i here? who i’m?

Saya berkesimpulan sementara mengenai refleksi akhir-akhir kejadian lalu. Yaitu “Makna perkaderan HMI baik adalah menjadikan kadernya sesuai insan cita dengan puncak paripurna.”

Mengutip akhir Puisi said muniruddin penulis buku HMI bintang Arsy…
‌Setengah dirimu iblis
‌Setengahnya lagi malaikat
‌Sebahagian dirimu terang
‌Selebihnya g‌elap
Di HMI hanya satu proses perjalanan sebagai manusia yang sudah memilih jalan tersebut. Jika memilih jalan tersebut, maka berusaha yakin apa yang dianggap kebenaran sesuai insan citanya. Memegang dengan sepenuh hati, meski melawan arus banyak orang di jalan tersebut. Keterbukaan dan kelapangan dada adalah kunci keluwesan jiwa dan fikiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s